Pernah tahu para juara di dunia? Saya yakin Anda pasti mengenalnya. Sebut saja Muhammad Al-Fatih. Sang juara yang namanya dikenal sebagai penakluk terbaik Konstantinopel. Tahukah Anda apa yang ada di balik kesuksesannya dalam menaklukan kotanya Heraklius itu? Mari kita telusuri!
Muhammad Al-Fatih tumbuh dengan dorongan visi dan misi besar oleh orang tua dan juga gurunya. Visi misi menjadi penakluk terbaik ditancapkan kuat sejak dini hingga berhasil menjadi visi misi milik Muhammad Al-Fatih. Tapi bukan dengan paksaan, melainkan dengan kesadaran mengapa ia harus menjadi penakluk terbaik.
Keinginan yang menghujam di benak al-Fatih bukan tanpa alasan, melainkan karena adanya sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang mengatakan "Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya". Sabda inilah yang senantiasa terngiang di telinga Muhammad al-Fatih hingga Konstantinopel benar-benar dalam genggaman Islam.
Tidak dengan persiapan sehari dua hari. Muhammad al-Fatih tiada henti menempa diri dengan berbagai macam ilmu untuk memantaskan diri menjadi pemimpin yang dikabarkan di dalam sabda Nabi. Akhirnya, ia pantas menggenggam kemenangan. Namun, keberhasilannya meraih janji Allah tidak membuatnya berpuas diri. Selepas menaklukkan Konstantinopel, ia membawa pasukannya untuk menaklukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.
Atas prestasi yang ia torehkan pada sejarah perluasan Islam di dunia, ia tidak membiarkan kesombongan merajai dirinya. Muhammad al-Fatih tetap mengakui bahwa segala capaiannya adalah berkat izin Allah SWT dan hidupnya benar-benar ia dedikasikan untuk Allah dan Rasul-Nya yang ditandai dengan sujud syukurnya beberapa saat setelah kemenangan ummat Islam berhasil ia wujudkan.
Dunia pun secara sadar maupun tidak, mau tidak mau harus memberikan apresiasi nyata yang luar biasa kepada lelaki yang mampu menaklukkan Kota Heraklius ini. Namanya tertoreh indah dalam catatan sejarah yang akan menjadi salah satu pelajaran berharga sepanjang zaman. Lebih dari itu, penghargaan hakiki sudah pasti Allah sediakan baginya. Berupa kenikmatan yang tiada taranya jika dibandingkan dengan dunia dan seisinya. Siapapun tidak akan mampu membeli walau dengan harta yang melimpah.
Di sisi lain, Muhammad al-Fatih juga terkenal sebagai pemuda yang menguasai 7 bahasa, juga sebagai pemuda yang giat dalam memperdalam ilmu-ilmu mulai dari matematika, fisika, astronomi, seni perang praktis, militer, dan ilmu-ilmu lainnya. Namun, tujuan al-Fatih tetap satu, yakni menaklukkan Konstantinopel. Itulah kunci sukses yang ia miliki. Yakin akan jadi Allah dan fokus untuk mewujudkannya
Bisa kita bayangkan jika Muhammad al-Fatih lebih memilih zona nyamannya. Berkutat pada urusan perut dan selimut. Enggan berkorban dan lari dari nikmatnya luka perjuangan. Maka, gelar penakluk terbaik tidak akan tersemat pada dirinya. Karena tidak mungkin Allah salah memilih orang yang pantas menyandangnya.
Muhammad al-Fatih tahu betul bahwa mewujudkan sabda Sayyidina Muhammad sang inspirator utama bukanlah hal yang mudah. Dan berada di zona nyaman dan aman bukanlah pilihan tepat untuk mewujudkan ambisinya. Jadi, meskipun halangan dan rintangan tidak henti menghadang, ia tak henti berjuang. Karena ambisinya untuk kejayaan Islam lebih besar dari rasa takut akan onak duri yang siap menghantamnya.
Luar biasa, bukan? Kisah inspiratif di atas juga bisa diaplikasikan dalam berbagai hal, termasuk dalam dunia literasi.
Bagi penulis, mengikuti jejak langkah sang juara dunia tentu diperlukan. Dari kisah sang juara diatas, kita bisa belajar beberapa poin untuk meraih kesuksesan dalam kepenulisan. Berikut langkah-langkah singkatnya:
1. Tetapkan tujuan. Tujuan akan membuat arah langkah penulis akan jelas untuk apa. Untuk menjadi penulis bela Islam, misalnya.
2. Ukuran yang konkret. Ukuran yang pasti saat menjadi penulis. Mana mungkin penulis ujung-ujungnya mau menjadi trainer, hehe. Yang pasti adalah nerbitin buku, tembus media cetak atau minimal bisa nulis status, hihihi. Jangan lupa sertakan ritual wajib nya, yaitu latihan dan membaca secara rutin.
3. Merajut pengalaman sukses. Pengalaman sukses akan membantu penulis untuk semakin positif dan energik untuk menorehkan karya-karya yang lebih renyah dan pasti lebih berbobot.
4. Pengakuan atas pencapaian. Intinya apresiasi pada diri. Tidak selalu harus dengan materi, meskipun hukumnya mubah aja. Kalau mau yang hemat tapi berkah juga ada. Apa? Dengan ungkapan rasa syukur bahwa Allah masih titipkan ilmu pada diri.
5. RAHASIA. Rahasia? Iya, tapi minggu lalu. Hari ini boleh di bagi. Langkahnya adalah adanya penghargaan yang nyata dan tidak nyata. Penghargaan yang nyata diberikan dengan apresiasi. Pujian. Motivasi dan apresiasi-apresiasi positif lainnya. Adapun apresiasi yang tidak nyata -kalau di AMK-, Cikgu mempersembahkan Hatimedia E-magazine. Majalah yang memuat tulisan-tulisan karya pejuang pena di AMK. Dengan begitu, tulisan akan dibaca jutaan pasang mata. Wow! Amazing! :D
Nah, jangan lupa! Pejuang pena harus berhati-hati dengan:
1. Zona nyaman. Sulit menghancurkan keinginan untuk terus berleha-leha dan membentuk habits-habits baru yang bisa mengantarkan pada kesuksesan menjadi penulis.
2. Tidak mau melalui jalur sulit (kata Cikgu ini saudara kembar zona nyaman). Kata lainnya tidak mau ambil resiko. Padahal resiko adalah hal yang pasti. Berkarya mati, tidak berkarya juga akan mati. Jadi, mau mati dengan punya karya atau tidak? Itu pilihan! #jlebsendiri
Itu aja sih. Itu ajanya Semoga bermanfaat, ya ...
RWijaya
Kota Tepian, 17/02/18, 09.26
#AkademiMenulisKreatif
#PenulisBelaIslam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkata baik atau diam!