Nek, Aku tak tahu syari'at Islam
Tapi itu dulu, saat hidupku dalam "kejahiliyahan"
Yang kutahu konde Indonesia sangatlah indah
Tapi itu dulu, saat kajian Islam belum kuperindah
Nek, sekarang konde tak lebih indah dari jilbab, kerudung dan cadar
Gerai tekukan rambut nan suci sungguh hina jika harus dinikmati mata-mata liar
Sehina kain yang membungkus ujud seadanya
Terpisah dengan kodrat penciptaannya
Jari jemarinya berbau api membara
Peluh tersentuh kemaksiatan durjana
Ku tak ingin melihat nenek Indonesia sepertimu
Yang semakin asing dengan ajaran-ajaran pencipta
Harusnya kau ingat
Kecantikan asli bukan saat kau berkhianat
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di bumi Allah, bumi petualang yang pasti akan kembali pulang
Nek, Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok
Tapi itu dulu, saat Aku belum tahu betapa syahdu lantunan adzan yang dikumandangkan kala pertama kali Aku lahir dari rahim ibuku
Satu dari ribuan kalam cinta penuh makna
Gemulai gerak lisan yang menyusurinya adalah ibadah
Semurni goresan iman pada Ilahi
Nafas do'anya berpadu takwa
Bait demi bait panggilan cinta berkumandang
Lelehan demi lelehan airmata mengalir lembut
Canting menggores amal-amal surgawi
Nek, pandangilah dirimu
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari syari'at penciptamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada syari'at Islam dan para pendahulunya
Kota Tepian, 04/04/18, 20.44
RWijaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkata baik atau diam!