Minggu, Maret 5

Prahara Dibalik Masuknya Pemikiran Asing

Oleh: RWijaya (Anggota Tim Kontak Aktivis MHTI Chapter Kampus Samarinda)

Tatkala islam memayungi sepertiga belahan dunia selama kurang lebih 14 abad, rakyat yang ada di bawah naungannya mendapatkan keteduhan yang menentramkan. Umat Islam berada pada frekuensi kekuatan yg satu. Tak ada yang mampu meruntuhkan benteng kekuatan kaum muslim, sebab kekuatan mereka dibangun dengan bangunan keimanan yang kokoh. Dan Tak ada yang mampu membedakan satu dengan yang lainnya kecuali ketakwaan yang mengalir bersama aliran darah kaum muslimin.

Namun, lambat laun payung yang berdiri kokoh menaungi umat itu mulai rapuh. Ranting-ranting yang menopang atapnya mulai diserang oleh racun-racun pemikiran yang menyisakan luka-luka yang sulit disembuhkan. Luka yang berbisa. Lebih ampuh untuk mematikan denyut perjuangan para pemuda pejuang islam dibandingkan luka yang menyayat saat berlaga di medan jihad fii sabilillah.
Racun-racun pemikiran yang telah merebak di tengah-tengah ummat, menjadi wabah yang kian menjamur dari masa ke masa. Para penjajah terus bergerak. Hingga kesakitan yang melanda ummat tak mampu dibendung, ditandai dengan runtuhnya institusi yang memayungi ummat. Meskipun ummat masih mencoba menelan pil-pil yang mampu mendatangkan kesembuhan, namun ummat tetap gagal. Ummat semakin tercerai berai, sakit parah.. Tersekat oleh dinding-dinding nasionalisme, yang memudarkan ikatan akidah Islam yang mulia.

Begitulah adanya. Tsaqofah asing (baca: racun pemikiran barat) berpengaruh besar terhadap menguatnya cengkeraman kekufuran dan penjajahan. Pengaruhnya mengikat ummat, sehingga ummat merasa bergantung padanya. Mempengaruhi perjalanan hidup ummat. Menjadi penentu arah ummat dalam bersikap dan berperilaku
Melalui tsaqofahnya yang rusak dan merusak para penjajah merancang sistem pendidikan yang memancarkan pandangan hidup mereka, yaitu sekularisme alias pemisahan agama dari kehidupan. Dengan tsaqofah bobrok yang mereka tanamkan pada pemikiran-pemikiran kaum muslim, mereka berhasil merenggut kepribadian ummat islam. Anak-anak didik kaum muslim semakin jauh dari pemikiran islam yang seharusnya menjadi sandaran dan idealismenya.

Gambaran tentang sejarah, fakta dan lingkungan yang berasal dari barat mengisi akal-akal generasi muslim. Seolah-olah, barat adalah satu-satunya peradaban yang mengisi segala lini kehidupan di dunia. Dan generasi muslim menelannya mentah-mentah. Hingga penjajahan dirasakan sebagai sesuatu yang mulia dan layak dijadikan sebagai kebanggaan. Akibat adanya penjajahan banyak hal yang patut "disyukuri". Sungguh ini pemikiran yang sangat dangkal dan jahil.

Begitulah pengaruh pendidikan sekuler. Yang menjadikan tsaqofah asing sebagai pelurunya. Generasi Islam terdidik oleh pemikiran yang bukan pemikiran asli mereka. Mereka dipaksa untuk berpikir sebagaimana orang lain berpikir. Sehingga, gambaran tentang kebangkitan kabur di pandangan matanya, bahkan lenyap sama sekali dari benaknya. Wallahu a'lam bi ash-showwab []

*Referensi:
1. Kitab At- Takattul Hizbiy karya Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

2. Politik Partai (Strategi Baru Perjuangan Partai Politik Islam) karya Muhammad Hawari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkata baik atau diam!