Harta adalah kebahagiaan, menurut sebagian orang.
Bahagia adalah jika mendapatkan harta baru. Mendapatkan barang baru. Atau yang sejenisnya.
Terlebih jika barang itu adalah kado alias pemberian sang terkasih. Entah itu adalah suaminya, isterinya, anaknya, atau mungkin sahabatnya.
Hati serasa berbunga. Kecintaan bertambah. Begitulah Allah kabarkan melalui lisan Nabi Shollallahu 'alayhi wa sallam bahwa saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai (HR. Bukhari)
Namun, sering kali terjadi kekeliruan dalam memaknai bahagia, khususnya bagi para orang tua. Bahagia
Menurut mereka adalah ketika sang buah hati telah tumbuh dewasa dan sukses dalam hal karirnya. Yang kemudian mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang berefek pada mudahnya sang buah hati membelikan barang ini dan itu. Kesimpulannya, "anak saya sukses membahagiakan saya!"
Tidak salah memang. Karena telah nyata bertambah kecintaan ketika hadiah diberikan, sesuai yang dikisahkan Rasulullah.
Hanya saja, mengukur kebahagiaan dengan standar harta saja tidaklah cukup. Orang tua seharusnya bahagia tatkala sang buah hati tumbuh dewasa dalam dekapan ilmu dan amal Islam. Menjadi anak yang sholih dan sholihah yang akan mengantarkan orang tua kepada kebahagiaan hakiki, yakni jannah.
Orang tua seharusnya bersedih bahkan was-was jika sang buah hati jauh dari hukum syara'. Terperosok dalam lubang kemaksiatan. Karena setiap langkah kaki sang anak yang tidak sesuai hukum syara' akan mendekatkan orang tua ke tempat yang tidak diinginkan setiap manusia, yaitu neraka.
Harta bisa dibeli. Namun keimanan tidak. Keimanan yang hakiki tak akan mampu dibeli dengan uang berapapun. Keimanan yang kokoh takkan mampu tergantikan oleh nikmat harta yang dititipkan.
Surga. Surga pun tak mampu dibeli dengan harta benda yang mewah dan mahal sekalipun. Ia hanya bisa dibeli dengan keimanan dan ketakwaan yang melahirkan keridhoan Sang Pemilik surga.
Begitulah bahagia. Ia tidak cukup hanya di ukur dengan harta. Namun, keimanan dan ketakwaan adalah yang utama d terutama. InsyaAllah, jika standarnya adalah keimanan, harta pas-pasan pun tidak menjadi suatu persoalan yang berarti. Wallahu a'lam.
Samarinda, 07/03/17, 11.57
-RWijaya-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkata baik atau diam!