Rabu, Oktober 19

"Peran Muslimah Melindungi Generasi dari Bahaya Liberalisasi” (Mengkritisi Fenomena Generasi Awkarin)

#Reportase

HTI-Press. Samarinda. Munculnya generasi alay yang semakin menjamur di tengah kehidupan generasi semakin hari semakin tidak terkendali. Fenomena kerusakan yang semakin membesar dan meluas di tengah kehidupan generasi dewasa ini memunculkan keresahan yang semakin menjadi-jadi di tengah kehidupan masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kembali menggelar FORMUDA (Forum Muslimah untuk Peradaban) edisi ke-16 yang bertempat di Hotel Grand Jamrud II Jl. Panglima Batur Lt. 2, dengan tema "Kerusakan Generasi".

Forum yang dilaksanakan pada ahad, 18/09/16 kemarin dimulai dengan penayangan video yang menggambarkan kerusakan generasi yang semakin parah, dan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari dua narasumber.

"Fenomena Awkarin ini hanyalah perwakilan dari banyaknya kerusakan yang terjadi pada generasi saat ini", Ibu Juli Nurdiana, M.Sc, selaku akademisi memulai materinya. Dalam penjelasannya, beliau menuturkan bahwa kita tengah hidup di era oversharing, semua hal bisa dishare. Sehingga, gaya hidup yang lahir dari paham liberal dengan mudah tersebar dan menjangkiti generasi yang tengah mencari jati diri. Menurutnya, inilah bukti kegagalan sistem pendidikan hari ini yang tidak mampu membentuk karakter generasi yang  bermoral dan bertakwa. Di akhir pemaparannya, Ibu Juli menerangkan, bahwa tolak ukur era kapitalisme yang bersandar pada materi adalah salah satu peluang untuk melahirkan generasi alay yang bisa dipastikan hal itu muncul akibat adanya paham liberal alias kebebasan.

Lalu, siapakah yang bertanggung jawab dengan masuknya paham liberal ini?

Menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Ibu Rahmawati Al-Hidayah, selaku moderator, Ibu Sri Hartini, S.Pd, selaku Ketua DPD I MHTI Kaltim membuka materinya dengan berkata, “Korban paham kebebasan bukan hanya para remaja atau generasi saat ini, tetapi bisa dikatakan hampir seluruh anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi ingin diatur oleh norma, bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah tidak mau diatur oleh agama". Beliau menambahkan, “Ketika kita tidak berpegang pada hukum Allah, berarti kita membuka diri untuk dijangkiti virus liberal".

Paham liberal yang lahir dari rahim sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) ini tidak hanya melahirkan generasi semacam awkarin, tetapi juga melahirkan orang-orang yang membuat hukum yang sangat jauh dari Islam.

Lantas, dengan apa kita selamatkan generasi ini?

Ini adalah masalah kita bersama. Untuk itu, perlu adanya penyadaran bagi ummat untuk turut peduli terhadap nasib generasi bangsa. Untuk itu, dalam kesempatan ini ketua DPD I MHTI Kaltim menyeru para peserta yang hadir untuk bersama-sama mengkaji Islam dan mendakwahkannya.

Pemaparan materi dari dua narasumber cukup menggambarkan kerusakan yang terus berlangsung. Forum dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dari pertanyaan yang diutarakan oleh lima penanya; Kiki, Iliyana, Wa Ode, Lintang dan Ayu, yang rata-rata adalah remaja alias pemuda, pada umumnya mereka bertanya terkait solusi Islam dalam mencegah dan menghentikan tumbuh dan berkembangnya generasi seperti awkarin, serta seperti apa cara menyampaikannya pada ummat.

Menanggapi pertanyaan seluruh penanya, Ketua DPD I MHTI Katim menjelaskan secara umum, bahwa perilaku seseorang tergantung dari pemahamannya. Maka, yang harus dilakukan adalah dakwah untuk mengubah pemahaman seseorang, serta perlu adanya gerakan bersama dalam penyadaran.

Ibu Juli menambahkan, “Lahirnya generasi Awkarin tidak lepas dari kondisi sistem yang bukan Islam. Sebagai seorang muslim yang wajib taat pada Rabbnya, janganlah kita ikut menyebarkan bahkan mengamalkan paham liberal. Agar tidak terarus oleh generasi Awkarin, maka perlu adanya ketakwaan individu, peran keluarga dan masyarakat sebagai pengontrol, serta yang terpenting adalah peran negara sebagai pembuat kurikulum pendidikan. Bahkan bukan hanya itu, tetapi media juga harus berperan dalam membentuk generasi yang berkepribadian Islam."

Acara ditutup dengan pembacaan do’a oleh Ustadzah  Ummu Arul, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. [rw]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkata baik atau diam!